July 14, 2010

Membenarkan yang biasa Vs Membiasakan yang benar

Manusia diangerahi Allah pemikiran agar selalu mampu memperoleh solusi dalam setiap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Namun betapa terkejutnya kita bahwa menurut banyak ahli kedokteran sesungguhnya lebih dari 90% aktifitas yang kita lakukan tanpa melalui proses berfikir. Tetapi jangan heran dulu, hal itu sesungguhnya menunjukkan betapa Maha Pintar dan Cerdas Allah. Aktifitas yang dilakukan dengan mode autopilot (tanpa proses berfikir) tersebut merupakan aktifitas yang sifatnya rutin. Misalnya bernafas, berjalan, berlari, memejamkan dan atau membuka mata dll. Dengan kondisi tersebut justeru menimbulkan efisiensi yang luar biasa. Pikiran akan menjadi terus terasah mengerjakan hal-hal baru yang lebih menantang untuk dipecahkan. Namun kadang sebagai manusia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita terjebak dalam situasi yang sesungguhnya menuntut kita untuk senantiasa berfikir kritis. Kebiasaan merupakan elemen yang secara sistemik mampu menumpulkan pemikiran kita. Dalam hal ini kebiasaan yang sudah melembaga atau kebiasaan yang diikuti untuk dipatuhi oleh banyak orang. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah kebiasaan-kebiasaan yang salah seolah-olah menjadi benar karena lazim dipraktekan oleh banyak orang.

Membenarkan yang biasa

Perilaku yang salah karena dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang dalam jangka waktu lama dan konsisten seolah-olah akan menjadi benar sekalipun hal itu salah dimata hukum ataupun norma agama. Banyak kasus mengenai hal ini, misalnya hal menyeberang jalan. Aturan dalam menyeberang jalan raya adalah melalui zebra cross, atau jembatan penyeberangan. Namun karena salah satu atau keduanya tidak ada atau lokasinya jauh, seringkali pejalan kaki ambil jalan pintas menyeberang jalan sembarangan. Pada awalnya hanya terjadi satu kali kejadian oleh satu orang pelaku, kemudian hal serupa diulangi oleh orang lain. Selanjutnya hal serupa diulangi oleh orang lain lagi bahkan tambah banyak jumlahnya, akhirnya semua orang berpersepsi menyeberang jalan tidak melalui zebra cross atau jembatan penyeberangan adalah “benar” dan “boleh”. Contoh lain, membuang sampah di sungai. Pada awalnya hanya satu orang membuang kaleng bekas minuman ringan (ah cuma satu kaleng saja, ngak akan mencemari sungai--pikirnya), tetapi ternyata pikiran serupa dimiliki oleh orang lain dan lebih banyak orang lain lagi. Akhirnya membuang sampah ke sungai seolah-olah menjadi “benar” dan “boleh” padahal papan larangan membuang sampah disungai terang-terangan terpampang didepan mata. Contoh serupa juga terjadi misalnya dalam hal korupsi, ah cuma sekali ini ah sedikit aja kok ngak akan bikin negara bangkrut. Celakanya hal serupa juga dipikirkan oleh banyak orang, dan ternyata juga diikuti dengan tindakan, jadilah korupsi massal. Artinya kebiasaan salah ini jika berulang-ulang, melibatkan banyak orang dalam jangka panjang akan menjadikan pemikiran kita bebal. Kita tidak saja melanggar hukum atau norma agama secara telak tetapi lebih jauh lagi merendahkan diri sendiri sebagai manusia yang diberi akal pikiran. Atau dengan kata lain melecehkan Allah sebagai Pencipta Yang Agung.

Membiasakan yang benar

Perilaku yang benar seringkali bisa terkubur atau bahkan hilang dari ingatan masyarakat jika tidak dipraktekkan dalam kehidupan. Terdapat ungkapan yang menyatakan bahwa “kebenaran itu menyakitkan, atau kebenaran itu pahit”. Pertanyaannya jika memang kenyataannya kebenaran itu justeru menyakitkan atau pahit, apakah perilaku yang benar harus dihilangkan???. Sesungguhnya awal dari kebenaran itu adalah lebih dekat kepada kejujuran dan kebenaran itu sendiri lebih dekat kepada surge. Artinya walaupun menyakitkan atau pahit, akan ada ujung kebahagiaan yang lebih kekal dalam jangka panjang jika kebenaran dipraktekkan. Kesakitan atau kepahitan dalam jangka pendek adalah harga yang harus dibayar untuk mencapai kebahagian dalam jangka panjang. Banyak pemimpin besar dunia mengurangi waktu tidurnya hingga menjadi kurang dari 5 (lima) jam saja dalam sehari, selebihnya mereka berkarya untuk rakyatnya. Karena para pemimpin itu meyakini kebenaran akan mereka capai, yakni kesejahteraan masyarakat atau peradaban manusia. Mereka rela keluar dari zona kenyamanannya, mereka dengan senang hati mengalami “kesakitan” dalam jangka pendek untuk kebahagiaan jangka panjang bagi lebih banyak orang. Dan seringkali pada perilaku benar itu menjadi minoritas pada masyarakat yang sudah salah kaprah “membenarkan yang biasa”, mereka yang demikian menjadi terlihat aneh, tidak lazim. Perilaku yang benar akan berdampak ketika dilaksanakan secara konsisten, dan dampaknya menjadi dahsyat ketika dilaksanakan secara bersama-sama oleh banyak orang. Jika kondisi ini tercapai, maka kebenaran tidak akan lagi menyakitkan atau pahit. Kebenaran akan terasa ringan, dan biasa saja.

Maka, jadilah manusia yang kritis terhadap kebiasaan. Kritis lah pada sistem atau apapun yang telah mapan dengan harapan kebahagiaan jangka panjang. Dan jadilah manusia-manusia yang berfikir.

0 comments:

Post a Comment